Nasib Kota Tua Jakarta

June 10th, 2008 by anakabah

Menjelajah di Jakarta seakan tidak pernah ada habisnya. Hari demi hari, ada saja hal baru yang bisa kita dapati di seputar Jakarta. Pembangunan yang begitu cepat, menciptakan gedung-gedung pencakar langit yang membumbung tinggi, mengalahkan Monas yang menjadi trade mark Jakarta.

Saya pernah tergugah, ketika melihat sebuah adegan film, yang menceritakan tentang seorang remaja dari luar Jakarta, yang ingin sekali pergi ke Monas. Karena selama ini, dia hanya bisa melihat kegagahan tugu kebanggaan Metropolitan Jakarta itu hanya dari gambar kalender yang ada di dinding kelurahan di tempatnya.

Jauh dari itu semua, Kota Tua Jakarta, di bilangan Kota, dekat Stasuin Jakarta Kota-Beos- Juga menyimpan sejarah dan panorama tidak terelakkan manisnya. Kita serasa dibawa kealam jaman pendudukan Hindia Belanda disana. Bangunan-bangunan khas eropa yang sampai sekarang masih terawat dengan cukup baik. Nuansa putih dengan aksen hijau pada jendela atau coklat tua, membuat suasana jaman kolonial terasa kental. Belum lagi, deretan bangunan menjulang tinngi itu, khas arsitktur eropa. Jadi tidak salah, bukan, jika kita menjuluki kawasan itu sebagai Eropa di jakarta?

Namun tahukah kawan, bahwa beberapa bangunan tersebut tidak semuanya dikelola oleh Pemerintah. Dalam hal ini, dinas pariwisata jakarta, tentu saja.
Saya menjumpai seorang warga keturunan Tionghoa yang kebetulan, ternyata tinggal disalah satu bangunan bersejarah tersebut. Bangunan itu, milik salah seorang pejabat, katanya. Dan bos nya, harus menyewa hampir dua juta rupiah lebih satu bulannya.

Disana dia tinggal dengan dua puluh orang lainnya, yang saya baru ketahui juga, bekerja sebagai buruh sablon disana. Dengan sedikit nego dan berbasa-basi, akhirnya, si bapak yang sudah berusia kira-kira 50 tahun itu, mengajak saya masuk.

Diruangan pertama, saya mendapati sebuah mobil box 2ton, diparkir. Ini mungkin untuk antar barang dari sablon ke pedagang. Kemudian membuka pintu satu nya, saya mendapati banyak kaos-kaos yang menunggu untuk dicetak. Sebuah karpet merah terhampar. “ini untuk tidur kami,” katanya kemudian, ketika saya tanya untuk apa gunanya karpet itu. Dilantai dua, terdiri dari sekat-sekat ruangan yang berisi mesin-mesin cetak sablon dan yang lainnya.

Otak saya berfikir, kemana mengurus ijin untuk usaha percetakan disini? dan kemana mengurus ijin untuk menempati kawasan wisata ini. Apakah pemerintah sudah tidak ambil pusing dengan keberadaan kota tua tersebut, sehingga kawasan cagar budaya yang seharusnya dijadikan objek wisata dan penelitian budaya dijadikan (baca:dijual) untuk kawasan industri?

Atau, apakah bangunan-bangunan tersebut hanya di rawat pada bagian-bagian yang sudah menjadi hak pemerintah?

tanya kenapa?
boim
Juni 2008